Page 165 - Profil Desa Budaya Srimulyo
P. 165
Peninggalan warisan Budaya/
No Judul Cerita rakyat Garis Besar Cerita Rakyat
Petilasan yang Terakhir
emas, bersamaan lenyapnya Sunan Kalijaga. Cakrajaya mohon
pada istrinya berkeinginan berguru kepada Sunan Kalijaga dan
berpesan emas- emas itu nanti untuk membiayai anaknya yang
akan lahir nanti. Setelah dapat bertemu dengan Sunan Kalijaga,
Cakrajaya disuruh menunggu tongkatnya selama 1 tahun di
Gunung Ngrengga. Setelah 1 tahun tempat bertapa Cakrajaya
menjadi hutan lebat, kemudian hutan itu dibakar, tetapi Cakrajaya
tetap hidup, namun badannya menjadi hitam. Maka oleh Sunan
Kalijaga, Cakrajaya setelah mendapat ilmu disuruh segera
menyebarkan agama islam dari Bagelen, Kedu Klaten, Prambanan
sampai ke dusun Jolosutro. Akhir hayatnya dimakamkan di makam
Sentono termasuk wilayan kelurahan Jolosutro. Masyarakat
menjuluki Sunan Geseng karena Cakrajaya bertubuh hitam.
Sampai saat ini makam Sunan Geseng masih terawat baik dan
masih banyak pengunjung yang datang berziarah.
2 Asal-usul Kalurahan Makam Pepundhen/Cikal Bakal Desa Srimulyo yang kini disebut sebagai Kalurahan Srimulyo pada
Srimulyo Kalurahan awalnya merupakan penggabungan dari 4 (empat) kelurahan,
yaitu Kelurahan Bintaran, Kelurahan Payak, Kelurahan Sandeyan,
dan Kelurahan Jolotirto. Pada masa itu Kelurahan Bintaran
dipimpin oleh Bapak Dullah, Kelurahan Payak dipimpin oleh Cokro

