Page 166 - Profil Desa Budaya Srimulyo
P. 166

Peninggalan warisan Budaya/
 No   Judul Cerita rakyat     Garis Besar Cerita Rakyat
 Petilasan yang Terakhir
          emas,  bersamaan  lenyapnya  Sunan  Kalijaga.  Cakrajaya  mohon

          pada  istrinya  berkeinginan  berguru  kepada  Sunan  Kalijaga  dan

          berpesan emas- emas  itu nanti untuk membiayai anaknya yang
          akan lahir nanti. Setelah dapat bertemu dengan Sunan Kalijaga,

          Cakrajaya  disuruh  menunggu  tongkatnya  selama  1  tahun  di
          Gunung  Ngrengga.  Setelah  1  tahun  tempat  bertapa  Cakrajaya

          menjadi hutan lebat, kemudian hutan itu dibakar, tetapi Cakrajaya
          tetap hidup, namun badannya menjadi hitam. Maka oleh Sunan

          Kalijaga,  Cakrajaya  setelah  mendapat  ilmu  disuruh  segera

          menyebarkan agama islam dari Bagelen, Kedu Klaten, Prambanan
          sampai ke dusun Jolosutro. Akhir hayatnya dimakamkan di makam

          Sentono  termasuk  wilayan  kelurahan  Jolosutro.  Masyarakat
          menjuluki  Sunan  Geseng  karena  Cakrajaya  bertubuh  hitam.

          Sampai saat  ini makam  Sunan Geseng  masih  terawat baik dan

          masih banyak pengunjung yang datang berziarah.
 2   Asal-usul   Kalurahan  Makam   Pepundhen/Cikal   Bakal  Desa Srimulyo yang kini disebut sebagai Kalurahan Srimulyo pada

 Srimulyo   Kalurahan   awalnya  merupakan  penggabungan  dari  4  (empat)  kelurahan,
          yaitu Kelurahan Bintaran, Kelurahan Payak, Kelurahan Sandeyan,

          dan  Kelurahan  Jolotirto.  Pada  masa  itu  Kelurahan  Bintaran

          dipimpin oleh Bapak Dullah, Kelurahan Payak dipimpin oleh Cokro
   161   162   163   164   165   166   167   168   169   170   171