Berita Desa

Sejarah Desa

09 Agustus 2020
Administrator
Dibaca 3.625 Kali

Sejarah cikal bakal dan asal muasal Kalurahan Srimulyo tidak dapat dilepaskan dari “Adeging Kraton Mataram” Kerajaan Islam di wilayah Jawa bagian selatan. Pendirian dan perwujudan Kraton Mataram awalnya merupakan rencana rahasia para wali untuk menyiapkan pusat-pusat budaya dan kraton baru, karena Kerajaan Demak mulai terancam dengan masuknya bangsa barat di pesisir utara. Setelah Adipati Unus gagal mengusir Bangsa Portugis dari Malaka, maka kedudukan mereka semakin kuat, bahkan  waktu itu Portugis sudah bikin benteng di Jepara. Pusat-pusat baru yang direncanakan itu meliputi Cirebon utk wilayah barat, Gresik di timur dan Mentaok di selatan.

Tujuan dari pendirian pusat-pusat budaya (kraton) baru itu adalah untuk menjaga kedaulatan tanah Jawa dari ancaman bangsa-bangsa lain, dengan cara membangun kekuatan ekonomi dan pengembangan jati diri/identitas budaya masyarakat. Kesemua itu dirangkai dan didasari oleh spirit keagamaan/ketuhanan, melalui penegakan nilai-nilai dan budi pekerti luhur.

Sunan Kalijaga memimpin rombongan ke arah selatan, alas Mentaok, bekas wilayah kerajaan Mataram Kuno, dalam rangka menjalankan misi rahasia tersebut. Berdirinya Kraton Pajang, adalah tujuan antara, karena situasi mendesak, di mana situasi Demak sudah keropos, sementara pendirian Mataram belum siap. Konon, dalam perjalanan dari Demak Bintoro, rombongan Sunan Kalijaga melewati suatu wilayah pedesaan yang dikelilingi hutan, wilayah tersebut bernama Papadan yang kelak kemudian hari berganti nama menjadi Bintaran, salah satu kelurahan lama yang akhirnya bergabung menjadi satu Bersama 3 (tiga) kelurahan lama yang lain menjadi Kalurahan Srimulyo.

Desa Papadan sebetulnya pada zaman dahulu adalah kota besar, karena merupakan bagian dari wilayah peradaban Kerajaan Mataram Kuno. Desa tersebut bagian dari Kota Kadipaten yang dipimpin oleh Adipati Bhre Pandan Gawe. Kerajaan Mataram waktu itu dipimpin oleh Raja Mpu Sindok yang memerintah 6 (enam) abad lalu, yaitu pada abad X M. Karena seringnya terjadi bencana alam berupa letusan gunung merapi, gempa bumi dan banjir bandang, yang menewaskan ribuan penduduk, merobohkan dan menimbun bangunan-bangunan termasuk kraton dan candi-candi yang ada, maka Mpu Sindok kemudian memindahkan Pusat Kerajaan Mataram ke lembah hulu Sungai Brantas, di Jawa Timur. Akhirnya semua anggota keluarga kerajaan dan penduduknya ikut pindah ke Jawa Timur, kecuali beberapa kelompok kecil tersisa yang tidak ikut pindah, termasuk nenek moyang desa Papadan. Walaupun beragama Hindu, Mpu Sindok sangat toleran dan ikut mendukung pengembangan agama Budha di wilayah kerajaannya, sehingga kemudian melahirkan aliran agama Syiwa-Budha, menjadi agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk, turun temurun banyak generasi.

Sekitar tahun 1570 M, desa Papadan dipimpin oleh Tetua desa bernama Tejokusumo dibantu kakaknya Surodipo, meskipun demikian, mereka sebenarnya sudah tidak berjumpa langsung dengan para pendeta asli yang mengajarkan Syiwa-Budha secara benar, sehingga ia hanya mengikuti saja tradisi yang sudah turun temurun berlaku waktu itu. Masyarakat pada masa itu merasa terisolir, dan tidak tahu ke mana harus bertanya dan belajar mengembangkan pengetahuan keagamaannya.

Di Desa Papadan ketika itu tersisa 3 (tiga) peninggalan candi yang sudah usang, sebagian sudah rusak-rusak dan terbenam di dalam tanah. Di sebelah timur desa, di tepi Sungai Gawe ada candi yang disebut dengan Candi Payak. Kemudian di sebelah barat-selatan desa, di tepi tempuran Kaliopak-Gawe, ada candi yang disebut Candi Bitreng. Kedua candi ini (Payak dan Bitreng) digunakan sehari-hari untuk memuja Dewa Air. Kemudian di tengah-tengah desa ada Candi Lawuan yang digunakan untuk upacara-upacara adat pada hari-hari tertentu.

Gambar 1 – Situs Payak, Salah Satu Peninggalan Sejarah Kalurahan Srimulyo

 

Dalam perjalanan ke Mentaok, Sunan Kalijaga, dan rombongan para wali tiba di wilayah Papadan dan bertemu dengan Tejokusumo, Surodipo dan masyarakat Papadan. Kepada Tejokusumo dan Surodipo, Sunan Kalijaga juga meminta ijin (yang langsung diterima mereka dengan sukacita dan keberkahan) untuk mendirikan “pos peristirahatan” bagi para pendatang dari Demak Bintoro di desa ini sekaligus menitipkan pos ini kepada mereka untuk dikelola dengan baik. Hadirin yang ada waktu itu, langsung menjuluki Tejokusumo sebagai Ki Jogo Tamu dan wilayah Papadan berganti nama menjadi Bintaran.

Sejarah Kalurahan Srimulyo juga tidak lepas dari era perjuangan gigih Pangeran Diponegoro melawan penjajah bermarkas di Selarong sejak tahun 1825 hingga 1830. Konon, Pangeran Diponegoro pernah singgah di tempat persembunyian yang berlokasi di Kalurahan Srimulyo, tepatnya kini bernama Padukuhan Ngelosari, yakni Goa Song Kamal Ketika bergerilya melawan Belanda kala itu.

Gambar 2 – Goa Song Kamal, Salah Satu Peninggalan Sejarah Kalurahan Srimulyo

Seusai meredam perjuangan Diponegoro, Pemeritah Hindia Belanda kemudian membentuk komisi khusus untuk menangani daerah Vortenlanden yang antara lain bertugas menangani pemerintahan daerah Mataram, Pajang, Sokawati, dan Gunung Kidul. Kontrak kasunanan Surakarta dengan Yogyakarta dilakukan baik hal pembagian wilayah maupun pembayaran ongkos perang, penyerahan pemimpin pemberontak, dan pembentukan wilayah administratif.

Tanggal 26 dan 31 Maret 1831 Pemerintah Hindia Belanda dan Sultan Yogyakarta mengadakan kontrak kerja sama tentang pembagian wilayah administratif baru dalam Kasultanan disertai penetapan jabatan kepala wilayahnya. Saat itu Kasultanan Yogyakarta dibagi menjadi tiga kabupaten yaitu Bantulkarang untuk kawasan selatan, Denggung untuk kawasan utara, dan Kalasan untuk kawasan timur. Menindaklanjuti pembagian wilayah baru Kasultanan Yogyakarta, tanggal 20 Juli 1831 atau Rabu Kliwon 10 sapar tahun Dal 1759 (Jawa) secara resmi ditetapkan pembentukan Bantulkarang yang kini merupakan supra desa Kalurahan Srimulyo, Kabupaten Bantul.

Lebih jauh dari masa di atas, pada tahun 1946 terdapat peristiwa penting yang berkait dengan lahirnya Kalurahan Srimulyo, yakni diundangkannya Undang-undang Nomor 13 Tahun 1946 tentang Penghapusan Desa-Desa Perdikan. Desa perdikan yaitu desa-desa dalam tata Negara Belanda yang dinamakan “Virjedesa” (Gouv. Besl. no. 25, tanggal 20-12-1912; Bijbl. No. 7847). Masih pada tahun yang sama, selanjutnya dikeluarkanlah maklumat yang merupakan titik awal berdirinya Kalurawahan Srimulyo, yakni Maklumat Nomor 7, 14, 15, 16, 17 dan 18 Monarki Yogyakarta yang mengatur tentang Tata Kelurahan di Kota itu. Adanya Maklumat tersebut kemudian dikuatkan dengan Maklumat Pemerintah Daerah Istimewa Negara Republik Indonesia Yogyakarta Nomor 5 Tahun 1948 tentang Perubahan Daerah-Daerah Kelurahan dan Nama-Namanya (Makloemat Nomor 5 Tahun 1948). Maklumat ini merupakan salah satu bentuk dari proses penataan pemerintahan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu isi maklumat tersebut menyatakan bahwa dilakukan penggabungan dari 4 (empat) kelurahan yaitu Kelurahan Jolosutro, Payak, Sandeyan dan Bintaran menjadi kelurahan baru disebut Kalurahan Srimulyo. Pada  masa  itu  Kelurahan  Bintaran  dipimpin  oleh  Bapak Dullah, Kelurahan Payak dipimpin oleh Cokro Arjo, Kelurahan Sandeyan dipimpin oleh  Dhemo/Khunting,  dan  Kelurahan  Jolosutro yang  dipimpin  oleh  Wongso Sediro.

Selanjutnya, setelah lebur menjadi Kalurahan Srimulyo, keempat kelurahan tersebut menjadi "Kring" yang terdiri dari Kring Bintaran, Kring Payak, Kring Sandeyan, dan Kring Jolosutro. Meskipun pembagian tersebut tidak dibakukan secara administrasi pemerintahan tetapi sangat bermanfaat dalam menunjang kegiatan operasional pemerintahan Kalurahan Srimulyo karena ikatan emosional yang cukup erat dari  warga masyarakat serta didukung oleh letak geografis yang berdampingan, adanya kesamaan potensi wilayah dan eratnya kegiatan sosial budaya masyarakat dalam Iingkup satu kring.

Berdasarkan “kring” kala itu, wilayah Kalurahan Srimulyo terbagi menjadi 4 (empat) kring terdiri atas :

  1. Kring Bintaran: terdiri atas 4 (empat) dusun, yakni Padukuhan Kradenan, Cikal, Bintaran Kulon, dan Bintaran Wetan.
  2. Kring Payak: terdiri atas 6 (enam) dusun, yakni Padukuhan Klenggotan, Bangkel, Payak Cilik, Payak Tengah, Payak Wetan„ dan Onggopatran.
  3. Kring Sandeyan : terdiri atas 6 (enam) dusun, yakni Padukuhan Kabregan, Sandeyan, Ngijo, Duwet Gentong, Jombor, dan Plesedan.
  4. Kring Jolosutro : terdiri atas 6 (enam) dusun, yakni Padukuhan Jasem, Prayan, Jolosutro, Ngelosari, Kaligatuk, dan Pandeyan.
Bagikan artikel ini: