Berita Desa

Workshop Penetapan Indikator Kinerja Lurah dan Penyusunan Dokumen Perjanjian Kinerja

24 Oktober 2025
Administrator
Dibaca 272 Kali

Piyungan (Kabar Gerbang Madu), – Pemerintah Kalurahan Srimulyo menggelar Workshop Penetapan Indikator Kinerja Lurah dan Penyusunan Dokumen Perjanjian Kinerja di Pendopo Ibukota Kalurahan Srimulyo (IKS), Jumat (24/10). Kegiatan ini diikuti oleh PLT Lurah Srimulyo, pamong kalurahan, dukuh, staf, serta perwakilan TP Posyandu. Acara tersebut menjadi langkah penting dalam mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang transparan, terukur, dan berorientasi pada pelayanan publik yang semakin baik.

Dalam sambutannya, PLT Lurah Srimulyo, Nurjayanto, S.T., menyampaikan sejumlah target pembangunan yang telah disepakati untuk menjadi indikator kinerja lurah pada Tahun 2025. Di antaranya penurunan jumlah rumah tangga miskin sebanyak 57 rumah tangga, pengurangan 35 anak stunting hingga mencapai zero stunting, peningkatan Pendapatan Asli Kalurahan sebesar Rp30.800.000, dan peningkatan indeks pelayanan publik sebesar 0,1 poin. “Harapannya angka stunting di Kalurahan Srimulyo bisa zero dengan beberapa startegi tentunya,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, Penewu Piyungan, Muhammad Baried, S.Sos., M.M., menegaskan bahwa stunting dan kemiskinan merupakan fokus utama dalam perjanjian kinerja lurah. Ia mengingatkan bahwa angka stunting di Srimulyo masih memerlukan perhatian dan intervensi yang kuat. “Porsi penanganan stunting harus tetap besar, tidak hanya tahun ini tetapi juga di 2026. Setiap anak harus mendapatkan hak tumbuh kembang optimal,” tegasnya.

Pada kegiatan ini turut hadir Lurah Tirtonirmolo, Drs. Subagya, M.Pd., sebagai narasumber yang membagikan pengalaman sukses Tirtonirmolo menjadi Kalurahan Zero Stunting sejak 2023. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa stunting adalah gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis yang dapat memengaruhi perkembangan otak serta kualitas hidup anak.

Subagya memaparkan strategi besar yang dijalankan Tirtonirmolo dalam percepatan penurunan stunting, seperti rembug stunting tahunan sebelum Musrenbang kalurahan, monitoring konvergensi empat kali dalam setahun, pelacakan kasus berbasis data e-HDW, serta penguatan kapasitas kader dan edukasi rutin kepada masyarakat.

Upaya ini ditopang oleh alokasi anggaran khusus penurunan stunting yang signifikan, yaitu mencapai Rp584 juta di tahun 2024 dan meningkat menjadi Rp825 juta pada 2025. Selain itu, intervensi Tirtonirmolo diperkuat oleh kolaborasi lintas pihak, termasuk dukungan Dana Desa, PPBMP, dan CSR perusahaan sekitar untuk pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.

Salah satu inovasi yang paling menonjol adalah CETING SUPER (Cegah Stunting dengan jamu nafsu makan dan akupressure), yakni pemberian jamu cekok herbal dan pijat akupresur untuk meningkatkan nafsu makan, imun tubuh, dan tumbuh kembang anak. Teknik pijat dilakukan oleh kader terlatih dengan pengawasan puskesmas, sementara jamu dibuat dari bahan alami seperti temulawak, temu ireng, kunyit, dan madu.

Program ini berjalan efektif karena melibatkan keluarga secara langsung dan memanfaatkan potensi lokal. Tidak heran cakupan layanan inovasi ini meningkat lebih dari 20% dalam satu tahun, disertai kenaikan kesadaran masyarakat untuk menjaga kualitas kesehatan anak.

Melalui workshop ini, Pemerintah Kalurahan Srimulyo berharap dapat menerapkan strategi serupa—mengintegrasikan data, dukungan anggaran yang tepat sasaran, serta inovasi berbasis pemberdayaan masyarakat. “Harapannya Srimulyo bisa mengikuti jejak Tirtonirmolo dan mencapai zero stunting,” tutur Nurjayanto penuh optimisme. (Foto: Inoeng, Kontributor: Vera)

Bagikan artikel ini: