Mengenal Dua Penyakit Menular Musiman: Campak dan Demam Berdarah (DBD)
Piyungan (Kabar Gerbang Madu),- Penyakit menular tetap menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Di antara berbagai jenis penyakit yang sering merebak, Campak dan Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah dua penyakit yang kerap menimbulkan kejadian luar biasa (KLB), terutama pada anak-anak.
Meskipun keduanya sama-sama diawali dengan gejala demam tinggi, campak dan DBD disebabkan oleh virus yang berbeda dengan cara penularan dan risiko komplikasi yang berbeda pula. Yuk, simak ulasan lengkapnya di bawah ini!
- Campak (Measles)
Campak adalah penyakit infeksi saluran pernapasan yang sangat menular. Penyakit ini disebabkan oleh Morbillivirus dari keluarga Paramyxoviridae.
Cara Penularan
Campak menular melalui droplet (percikan ludah) saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Virus ini dapat bertahan di udara atau di permukaan benda selama hingga 2 jam.
Gejala Campak
Gejala campak biasanya muncul dalam 3 tahapan:
- Fase Awal (Prodromal): Demam tinggi, batuk, pilek (meler), dan mata merah/berair (konjungtivitis).
- Bercak Koplik: Muncul bintik-bintik putih kecil di bagian dalam pipi (biasanya 2-3 hari setelah gejala awal).
- Fase Ruam: Muncul ruam merah makulopapular yang khas, dimulai dari belakang telinga, menyebar ke wajah, leher, hingga seluruh tubuh.
⚠️ Komplikasi Berbahaya: Jika tidak ditangani dengan baik, campak dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia (infeksi paru), radang otak (ensefalitis), diare parah yang memicu dehidrasi, hingga kematian.
Pencegahan dan Pengobatan
- Pencegahan Utama: Imunisasi/Vaksinasi MR atau MMR (Measles, Mumps, Rubella). Ini adalah cara paling efektif.
- Pengobatan: Tidak ada obat spesifik untuk membunuh virus campak. Pengobatan bersifat suportif (meredakan gejala) seperti pemberian obat penurun panas, istirahat total, pemenuhan cairan, dan suplemen Vitamin A untuk mencegah komplikasi mata dan paru.
- Demam Berdarah Dengue (DBD)
Berbeda dengan campak yang menular antar-manusia lewat udara, DBD adalah penyakit yang ditularkan melalui vektor (perantara) nyamuk. Penyakit ini disebabkan oleh virus Dengue.
Cara Penularan
Penularan terjadi melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegypti atau Aedes albopictus yang telah terinfeksi virus Dengue. Nyamuk ini biasanya aktif menggigit pada pagi hari (jam 08.00–10.00) dan sore hari (jam 15.00–17.00).
Gejala DBD
Gejala DBD sering kali datang secara mendadak dan memiliki pola yang khas:
- Demam Tinggi Mendadak: Demam mencapai 39°C–40°C yang berlangsung selama 2 hingga 7 hari.
- Nyeri Tubuh: Sakit kepala hebat, nyeri di bagian belakang mata, serta nyeri sendi dan otot (sering disebut breakbone fever).
- Tanda Perdarahan: Muncul bintik-bintik merah di kulit (petekie) yang tidak hilang saat ditekan, mimisan, atau gusi berdarah.
- Fase Kritis: Terjadi pada hari ke-3 hingga ke-7 saat demam justru turun. Ini adalah fase paling berbahaya karena bisa terjadi kebocoran plasma darah yang memicu syok (Dengue Shock Syndrome).
Pencegahan dan Pengobatan
- Pencegahan Utama: Menerapkan gerakan 3M Plus:
- Menguras tempat penampungan air.
- Menutup rapat tempat penampungan air.
- Mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.
Plus: Menggunakan obat nyamuk, memasang kelambu, dan melakukan vaksinasi dengue (bagi kelompok usia yang disarankan).
- Pengobatan: Fokus utama adalah mencegah dehidrasi. Penderita wajib minum banyak air putih, oralit, atau jus buah, serta mengonsumsi parasetamol (hindari ibuprofen atau aspirin karena dapat memperparah perdarahan).
Menjaga Kesehatan Dimulai dari Kepedulian Bersama
Penyakit menular dapat dicegah apabila masyarakat memiliki kesadaran untuk menjaga pola hidup bersih dan sehat. Dukungan keluarga, lingkungan, dan fasilitas kesehatan sangat penting dalam upaya mencegah penyebaran campak maupun demam berdarah.
Melalui kebiasaan hidup sehat dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, diharapkan masyarakat dapat terhindar dari berbagai penyakit menular dan menciptakan lingkungan yang sehat, aman, dan nyaman bagi semua.( Foto: Inoeng, Kontributor: Imana)
#penyakit
Bagikan artikel ini: