P2TPAKK Rekso Dyah Utami DIY Berikan Layanan Konseling Keliling dan Pencegahan KDRT di Srimulyo
Piyungan (Kabar Gerbang Madu),- Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak Korban Kekerasan (P2TPAKK) “Rekso Dyah Utami” Daerah Istimewa Yogyakarta memberikan layanan konseling keliling dan sosialisasi pencegahan Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) pada Kamis (25/04). Kegiatan ini dilaksanakan di Pendopo Ibukota Kalurahan Srimulyo (IKS) yang dihadiri oleh Lurah Srimulyo, Pamong, Staf, Babinsa, Babinkantibmas, dan TP PKK Srimulyo.
Sri Maryani, S.H., M.Hum., selaku Ketua Pelaksana P2TPAKK Rekso Dyah Utami DIY mengatakan bahwa kasus perempuan dan anak yang ditangani tahun 2024 meningkat sudah mencapai 198 orang. Oleh karena itu, untuk meminimalisir kekerasan perempuan dan anak dapat dikonsultasikan dan dilayani melalui Rekso Dyah Utami DIY.
“Harapan kedepan DIY zero kekerasan perempuan dan anak. Melalui komitmen warga untuk hidup harmonis, Gemah Ripah Loh Jinawi, ucap Yani sapaannya.
Berbeda dengan acara sosialisasi lainnya, dalam acara ini terdapat pementasan drama dari Tim Kembang Telon DIY yang menarik perhatian seluruh peserta. Tepuk tangan dan sorak gembira dari peserta menyelimuti pementasan. Pementasan ini menjelaskan kekerasan rumah tangga yang berdampak pada anak baik dari segi pendidikan, mental, dan kesehatan.
Acara dilanjutkan dengan sosialisasi yang disampaikan oleh Ifa Aryani, S.Psi., M.Psi. mengenai kekerasan berbasis gender di DIY. Beliau mengatakan bahwa jenis kekerasan yang ada di DIY semakin banyak, salah satunya dan kasus terbanyak terjadi pada kekerasan pskikis atau mental. Tak hanya itu saja, kekerasan seksual juga kerap terjadi pada anak dengan pelaku orang terdekat. Oleh karena itu, perlu kerja sama yang baik antara stakeholder terkait dengan tim penanganan kekerasan perempuan dan anak di Srimulyo.
“Seluruh stakeholder harus bersinergi untuk kekerasan perempuan dan anak di Srimulyo, apalagi srimulyo merupakan desa wisata yang perlu perhatian khusus,” imbuh Ifa.
Drs. Wajiran, Lurah Srimulyo menambahkan untuk masalah keharmonisan rumah tangga sudah dibentuk perdes dan pembentukan tim PKDRT di 22 padukuhan melalui TP PKK Pokja 1. Selain itu, terdapat anggaran desa yang sudah dianggarkan untuk mendukung kekerasan perempuan dan anak.
“Fenomena KDRT menjadi perhatian kita Bersama terutama pamong, dukuh dan kader untuk menjadi contoh teladan dalam berumah tangga. Pendidikan ini penting agar masyarakat dapat meniru dan mencontoh keharmonisan berumah tangga,” urai Mas Lurah Joyo Mulyomintarjo.
Sri Maryani juga menambahkan bahwa factor yang menjadi pengaruh kekerasan perempuan dan anak adalah pengaruh budaya patriarki, pengaruh perkembangan teknologi informasi, ketidakadilan gender, serta kurangnya komunikasi dalam keluarga. Menjadi teladan yang baik bagi orang tua juga diperlukan saat menyuruh anak. Rekso Dyah Utami hadir ditengah-tengah masyarakat untuk pelayanan gratis bagi Masyarakat. Masyarakat dapat langsung mengakses dengan datang langsung atau melalui rujukan dari PKK atau tim penanganan kekerasan Perempuan dan anak di Srimulyo.
“Casing tidak menjamin, lebih baik casing seperti preman tetapi karakternya seperti bidadari daripada casing seperti bidadari tetapi hati seperti harimau,” tutupnya. (Foto: Inoeng, Kontributor: Vera)