Rembuk Tani Bersama BPP Piyungan: Petani Piyungan Bahas Solusi Ketersediaan dan Efektivitas Pupuk
Piyungan (Kabar Gerbang Madu),- Pemerintah Kalurahan Srimulyo bersama dengan Gapoktan Srimulyo menggelar kegiatan Rembuk Tani pada Senin, 11 Agustus 2025 di Rumah Bapak Hasroyo Payak Tengah Srimulyo Piyungan Bantul. Kegiatan ini bertujuan menjaring aspirasi petani serta memperkuat koordinasi dalam penyediaan dan penyaluran pupuk bersubsidi di wilayah Srimuly, Piyungan, Kabupaten Bantul. Acara ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan di sektor pertanian, termasuk perwakilan dari BPP Piyungan, Ulu-Ulu Srimulyo dan kelompok tani di Kalurahan Srimulyo.
Kegiatan ini ini menjadi ajang terbuka bagi petani untuk menyampaikan kendala di lapangan, khususnya terkait kelangkaan pupuk, keterlambatan distribusi, serta ketidaksesuaian jumlah alokasi dengan kebutuhan riil. Perwakilan BPP Piyungan, Bapak Narto, menegaskan bahwa sistem distribusi pupuk perlu ditata ulang agar lebih terbuka dan berpihak pada petani kecil yang selama ini kerap dirugikan.
“Pupuk adalah kebutuhan dasar bagi petani. Maka distribusinya harus dilakukan secara transparan, akuntabel, dan sampai ke petani yang benar-benar membutuhkan. Tanpa itu, program subsidi jadi tidak efektif,” ujar Bapak Narto dalam sambutannya.
Menurutnya, salah satu persoalan utama adalah kurangnya pemahaman petani terhadap sistem e-RDKK serta minimnya keterlibatan mereka dalam proses verifikasi data kebutuhan.
Dalam forum ini, ditegaskan bahwa ketiga prinsip utama transparansi, akuntabilitas, dan ketepatan sasaran harus menjadi dasar dalam penyaluran pupuk . Transparansi yaitu Informasi tentang alokasi, harga, dan jadwal distribusi pupuk harus terbuka dan mudah diakses oleh petani dan kelompok tani. Akuntabilitas yaitu setiap pihak yang terlibat, dari produsen hingga distributor, harus bertanggung jawab terhadap kinerjanya dan terbuka terhadap evaluasi serta tepat Sasaran yaitu pupuk harus benar-benar sampai ke tangan petani yang berhak, sesuai dengan data Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) yang valid.
Kegiatan Rembuk Tani ini menghasilkan beberapa poin kesepakatan, antara lain: penguatan peran penyuluh dalam pendampingan RDKK, peningkatan literasi digital petani, serta perluasan akses terhadap pupuk organik dan non-subsidi.
Acara ditutup dengan harapan agar komunikasi antara semua pihak tetap terjaga, terutama menjelang musim tanam berikutnya, demi mendukung ketahanan pangan nasional. (Foto: Inoeng, Kontributor: Imana)