Berita Desa

Sedekah Ageng Natas Gunung Gong, Tradisi Kaligatuk yang Sarat Makna Sejarah

14 September 2025
Administrator
Dibaca 260 Kali

Piyungan (Kabar Gerbang Madu),– Warga Padukuhan Kaligatuk, Kalurahan Srimulyo, Kapanewon Piyungan, menggelar rangkaian acara Sedekah Ageng Natas Gunung Gong sebagai wujud syukur sekaligus pelestarian tradisi leluhur. Kegiatan ini dilaksanakan mulai Minggu (7/9) hingga puncak acara pada Minggu (14/9) di Gunung Gong, Kaligatuk.

Tradisi ini tidak hanya menjadi ajang kebersamaan, namun juga erat kaitannya dengan sejarah lokal Kaligatuk. Nama Ngegong sendiri berasal dari kisah penemuan gamelan yang terpendam di kawasan tersebut. Menurut cerita turun-temurun, seorang petani bernama Kerto pada masa lampau tanpa sengaja menemukan seperangkat gamelan saat mencari rumput. Peristiwa ini bahkan pernah diberitakan dalam Majalah Kajawen tahun 1928. Temuan serupa berlanjut pada tahun 1984 ketika Sarjuni, warga Kaligatuk, menemukan kethuk dan bendhe di lokasi yang sama. Peneliti UIN Sunan Kalijaga, Abd. Shomad dan Zaenal Abidin, dalam tulisan Riwayat Jalasutra mengaitkan kisah gamelan terpendam ini dengan laku dakwah Sunan Geseng. Disebutkan, Sunan Geseng pernah menerima hadiah gamelan dari Raja, namun karena menolak menyimpan benda berharga itu, ia memilih memendamnya. Lokasi Gunung Gong dan Ngegong dipercaya masih menyimpan peninggalan sejarah tersebut. Tak heran, area ini hingga kini dianggap sakral dan kerap dijadikan tempat tirakat maupun kegiatan spiritual oleh masyarakat.

Rangkaian acara diawali dengan Donor Darah (Sedekah Darah) yang dilaksanakan pada Minggu (7/9) di kediaman Bapak Dukuh Kaligatuk. Kegiatan sosial ini mendapat antusiasme masyarakat sekaligus menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap sesama. Berlanjut pada Kamis (11/9) malam, warga bersama tokoh masyarakat menggelar Tahlil dan Doa di kawasan Gunung Gong RT 06. Acara ini berlangsung khidmat dengan harapan keselamatan dan keberkahan bagi seluruh warga. Malam berikutnya, Jumat (12/9), masyarakat melaksanakan Niti Lampah dan Tirakat di Gunung Gong. Kegiatan spiritual ini menjadi sarana mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus menghormati warisan budaya yang diyakini memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi.

Pada Sabtu (13/9), suasana semakin semarak dengan digelarnya Emprak dan Hadroh. Sejumlah kelompok seni turut serta, di antaranya Hadroh Uswatun Hasanah, Sholawat Jawa, serta Emprak Mulyo Budoyo. Penampilan kesenian tradisional ini menjadi hiburan sekaligus sarana melestarikan budaya lokal. Puncak acara digelar pada Minggu (14/9) mulai pukul 13.30 WIB dengan Kirab Sedekah Ageng yang dimulai dari Lapangan Voli RT 07 Kaligatuk menuju Gunung Gong RT 06. Usai kirab, dilanjutkan penanaman Wit Gondang sebagai identitas di area Gunung Gong. Selanjutnya, warga bersama-sama menggelar kenduri Sedekah Ageng Natas Gunung Gong sebagai wujud syukur atas limpahan rezeki dan keselamatan bagi masyarakat Kaligatuk.

Melalui Sedekah Ageng Natas Gunung Gong, masyarakat Kaligatuk tidak hanya merawat tradisi leluhur sebagai ungkapan syukur, tetapi juga menjaga dan mengingat kembali jejak sejarah yang sarat makna. Harmoni antara budaya, spiritualitas, dan sejarah inilah yang menjadikan Kaligatuk sebagai salah satu pusat kearifan lokal di Kalurahan Srimulyo. (Foto: Inoeng, Kontributor: Vera)

 - Foto 1
 - Foto 2
 - Foto 3
Bagikan artikel ini: