Kirab Pamong dan Unsur LKK se-DIY, Wujud Mangayubagya 80 Tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X
Piyungan (Kabar Gerbang Madu), – Yogyakarta – Dalam rangka mangayubagya 80 tahun yuswa Sri Sultan Hamengku Buwono X, ribuan pamong serta unsur Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan (LKK) se-Daerah Istimewa Yogyakarta mengikuti kirab budaya yang digelar pada Kamis (2/4). Kegiatan ini berlangsung dengan penuh khidmat dan semarak, menempuh rute dari kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta hingga Kompleks Pagelaran Keraton Yogyakarta.
Kirab ini menjadi salah satu bentuk penghormatan sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Sri Sultan sebagai pemimpin daerah dan simbol budaya Yogyakarta. Sejak pagi hari, peserta kirab telah memadati titik kumpul dengan mengenakan busana adat yang rapi dan sarat makna filosofi. Para panewu, lurah, dan pamong tampil anggun dengan busana pranakan jangkep bagi laki-laki dan kebaya tangkeban jangkep bagi perempuan. Sementara itu, unsur masyarakat dan LKK mengenakan pakaian batik yang mencerminkan identitas budaya sekaligus kebersamaan.
Pemerintah Kalurahan Srimulyo turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut dengan mengirimkan 25 personel. Keikutsertaan ini menjadi wujud nyata komitmen dalam melestarikan budaya serta bentuk penghormatan dan rasa bakti kepada Sri Sultan. Rombongan Kalurahan Srimulyo tampil membawa glondong pengarem-arem yang berisi berbagai produk unggulan UMKM masyarakat setempat.
Adapun isi glondong pengarem-arem tersebut meliputi emping, wedang uwuh, wedang alang-alang, jamu tradisional, rambak pisang, kripik tales, kripik sukun, serta ampyang. Produk-produk ini tidak hanya mencerminkan potensi ekonomi lokal, tetapi juga menjadi simbol keberkahan dan kesejahteraan masyarakat. Glondong pengarem-arem sendiri memiliki makna mendalam sebagai tanda cinta, loyalitas, serta ungkapan terima kasih rakyat kepada rajanya. Sepanjang perjalanan kirab, masyarakat yang memadati sisi jalan tampak antusias menyaksikan iring-iringan peserta. Nuansa budaya yang kental berpadu dengan semangat kebersamaan menjadikan kegiatan ini sebagai tontonan yang sekaligus menjadi tuntunan dalam menjaga tradisi.
Memasuki kawasan Kompleks Pagelaran Keraton Yogyakarta, suasana berubah menjadi semakin hening dan penuh penghormatan. Para peserta kirab berjalan dengan tertib, satu per satu rombongan menghadap untuk menyampaikan pisungsung dengan tata cara adat yang dijaga secara turun-temurun. Prosesi ini mencerminkan nilai unggah-ungguh, tata krama, serta penghormatan tinggi kepada Keraton sebagai pusat budaya Jawa.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan lancar dan tertib. Setelah prosesi selesai, para peserta kirab kemudian disuguhi menu angkringan yang dinikmati bersama. Hidangan sederhana tersebut justru menghadirkan suasana hangat, akrab, dan penuh kebersamaan antar peserta dari berbagai wilayah di DIY. Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat gotong royong, persatuan, serta kecintaan terhadap budaya lokal semakin tumbuh di tengah masyarakat. Kirab pamong dan unsur LKK ini tidak hanya menjadi bagian dari peringatan hari ulang tahun Sri Sultan, tetapi juga menjadi momentum penting dalam memperkuat identitas budaya serta mempererat hubungan antara rakyat dan pemimpinnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. (Foto: Inoeng, Kontributor: Vera)